ditulis 26 Nov 2020, oleh: admin

Ekspos Dokumen Rencana Pengelolaan SDA dan LH (RPSDALH)


Kamis, 26 November 2020, telah dilaksanakan Ekspos Dokumen Rencana Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup (RPSDALH) berbasis Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup pada Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba, yang bertempat di Aula Kantor Balai Diklat LHK Pematang Siantar. Ekspos yang dilakukan secara langsung tatap muka dan virtual ini dibuka oleh Kepala P3E Sumatera, Drs. Amral Fery, M.Si, sekaligus mempresentasikan hasil kajian. Acara ini dipandu oleh Kepala BPDAS Asahan Barumun, Ir. Sutrisna, M.Si. dengan pembahas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara, Dr. Ir. Binsar Situmorang, M.Si. M.AP.
.
Ekspos ini dihadiri oleh Pemerintah Daerah (Bappeda, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pariwisata dan Dinas PUPR) dari 7 Kabupaten yang berada di DTA Danau Toba, yaitu Dairi, Humbang Hasundutan, Karo, Samosir. Simalungun, Tapanuli Utara dan Toba. 7 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian LHK dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang wilayah kerjanya di DTA Danau Toba, akademisi dari Universitas Sumatera Utara (USU) serta Universitas Simalungun Indonesia (USI).
 
Dalam paparannya, Kepala P3E Sumatera, @amralfery62 menyampaikan bahwa kawasan Danau Toba merupakan kawasan strategis Nasional (KSN) sesuai dengan Perpres No.81 tahun 2014. Akan tetapi kondisi penutupan lahan di KSN Danau Toba telah mengalami perubahan yang signifikan sehingga menurunkan kemampuan DTA dalam menyerap, menyimpan dan mengalirkan air. Hal ini terlihat dari Jasa Ekosistem Pengaturan Tata Aliran Air dan Banjir di DTA Danau Toba tergolong rendah dan sangat rendah sebesar 31,7%. Oleh karena itu, pengelolaan SDA dan LH di KSN Danau Toba harus memiliki arahan kebijakan yang tepat.
 
Arahan kebijakan pengelolaan SDA dan LH yang direkomendasikan dalam kajian ini yaitu (1) Pengendalian erosi dan sedimentasi, melalui a) rehabilitasi hutan dan lahan (RHL), serta b) konservasi tanah dan air (KTA). RHL dapat dilakukan dengan melakukan reboisasi di kawasan hutan dan penghijauan di luar kawasan hutan, sedangkan KTA dapat dilakukan melalui KTA vegetatif (pertanian searah kontur, pengaturan jenis tanaman dan agroforestry)