ditulis 01 Dec 2020, oleh: admin

Ekspos hasil kegiatan Inventarisasi Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup (DDDTLH) Provinsi Riau


Selasa, 1 Desember 2020, telah dilaksanakan Ekspos hasil kegiatan Inventarisasi Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup (DDDTLH) Provinsi Riau untuk Perkebunan Kelapa Sawit, yang bertempat di Aula Kantor P3E Sumatera. Ekspos yang dilakukan secara langsung dan virtual ini dibuka oleh Kepala P3E Sumatera, Drs. Amral Fery, M.Si, sekaligus mempresentasikan hasil kajian. Acara ini dipandu oleh Dr. Afni Zulkifli, Tenaga Ahli Menteri LHK bidang komunikasi publik dan media sosial, dengan narasumber : Dr. Suwondo, M.Si, Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) Universitas Riau dan Dr. Heri Santoso, M.Sc., Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan.
 
Ekspos ini dihadiri secara langsung dan virtual oleh Bappeda, Dinas Perkebunan, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan lingkup Pemda kabupaten/kota dan Provinsi Riau, GAPKI dan Apkasindo Cabang Riau, BBSDLP Kementan dan Ditjen Perkebunan Kementan.
 
Amral Fery menyampaikan bahwa berdasarkan hasil kajian, luas perkebunan Kelapa Sawit di Provinsi Riau mencapai ±4.170.486 Ha atau 47% dari luas Provinsi Riau. Perkembangan luas perkebunan kelapa sawit yang sangat masif menyebabkan penurunan beberapa jasa ekosistem yang terkait seperti Jasa Ekosistem (JE) Penyediaan Air bersih (P2), JE Pengaturan Iklim (R1), JE Pengaturan Tata Aliran dan Banjir (R2) dan Jasa Pendukung Biodiversitas (S4). Hal itu karena perkembangan kebun kelapa sawit tidak sesuai dengan alokasi ruang yang telah ditentukan, seperti di dalam kawasan hutan, fungsi lindung gambut dan diluar pola ruang perkebunan dalam RTRWP Riau.
 
Berdasarkan kajian DDDTLH ini dipastikan bahwa daya dukung perkebunan kelapa sawit di Riau sudah terlampaui, dan perlu pembenahan pada lahan kelapa sawit yang ada saat ini, khususnya terkait perizinan dan alokasi ruang. Arahan dan rekomendasi hasil kajian ini, yaitu :
1. Terkait keseimbangan Jasa Ekosistem : (a) konservasi pada sempadan sungai, sumber air dan habitat flora fauna, (b) enklave pada areal nilai konservasi tinggi (NKT) dan (c) water management pada lahan gambut.