ditulis 11 Dec 2020, oleh: admin

Sosialiasi Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup untuk mendukung perencanaan restorasi gambut


Badan Restorasi Gambut (BRG) dan P3E Sumatera kembali berkolaborasi dalam acara "Sosialiasi Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup (DDDTLH) untuk mendukung perencanaan restorasi gambut" yang dilaksanakan pada hari Selasa, 8 Desember 2020 di Kab. Bengkalis, Prov. Riau
 
Kegiatan dibuka oleh Deputi Perencanaan dan Kerjasama BRG, yang diwakili oleh Erna Ika Rahayu, S.Hut, M.Sc. Narasumber yang hadir dalam kegiatan ini antara lain : Kepala P3E Sumatera, yang diwakili oleh Lukmanul Hakim, S.Hut, MIL, Kasubpokja Perencanaan dan Kerjasama BRG Erna Ika Rahayu, Bappeda Kab. Bengkalis. M. Azmir dan Bappeda Kab. Kep. Meranti  Ardiansyah.
 
Acara dipandu oleh Erni Wulandari, S.Hut, M.E. dari P3E Sumatera dan dihadiri oleh perwakilan dari berbagai OPD lingkup Provinsi Riau, OPD lingkup Kab. Bengkalis dan Kab. Kep. Meranti, KPHP Bengkalis Pulau, KPHP Tebing Tinggi dan Pemegang izin konsesi di KHG Pulau Rupat dan KHG Pulau Tebingtinggi.
 
Pada tahun 2021, target restorasi BRG di Riau akan difokuskan di Kawasan Hidrologis Gambut (KHG) Pulau Rupat yang berada di Kab. Bengkalis dan KHG Pulau Tebingtinggi di Kab. Kep. Meranti. Kondisi dikedua KHG sebagian besar telah terdegradasi, yang terlihat dari kondisi DDDTLH beberapa jasa ekosistem yang rendah dan sangat rendah (JE Pengaturan Iklim (R1) dan pengaturan aliran tata aliran air dan banjir (R2).
 
Pemulihan ekosistem gambut yang terdegradasi dapat dilakukan dengan menjaga keseimbangan air (water balance) sepanjang tahun, baik musim hujan maupun musim kemarau. Selain itu, juga memastikan tidak terjadinya penurunan permukaan tanah gambut (Subsidence). Keseimbangan air ini dapat diwujudkan dalam satu KHG dengan tidak memandang dan berbatas pemangku kepentingan (konsesi, kawasan hutan, wilayah kelola rakyat dll).
 
Dengan adanya sinergi perencanaan restorasi gambut yang disandingkan dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup diharapkan dapat lebih tepat sasaran dalam menangani areal kritis dan tergedradasi sehingga upaya pemulihan yang dilakukan dapat memberikan hasil yang lebih baik.